Posted by: boen | May 6, 2008

Konsumerisme ??

“Mas, ayuk kita jalan Mas,” wah asyik nih di ajak jalan-jalan. ”Kemana ?” jawab saya penuh semangat.

”Ke Mall dong,” kata adik saya.

”Wah, emang mau belanja lagi ya ?” perasaan belanjaan minggu kemarin belum habis.

”Ya, liat-liat dulu aja, kalo ada yang bagus baru belanja.”

“Hmmm….ya udah daripada bete di rumah, hayu..”.

Jadilah hari libur itu kami ke mall, ya itung-itung ada yang mau dibeli buat kawan dan persiapan ke luar kota. Singkat cerita sampailah kami di Mall, cari parkir susah, dan seperti biasa setelah saya mencari-cari dan membeli, saya nongkrong di tempat ngopi berbekal ipod dan laptop, sementara adik saya sudah gak jelas rimbanya di dalam hutan beton mall itu.

Karena perut gak enak dan lagi niat diet, saya pesan kopi mocha decaff nonfat. Kebetulan mall ini baru terbit, bertempat di jantung ibukota, gak jauh dari tempat Pak SBY berpidato tentang kondisi ekonomi bangsa ini malam sebelumnya.

Harga minyak di pasar internasional yang menembus US$ 116 per barrel, bahkan hari ini sudah di angka US$ 119 per barrel, tentunya tidak hanya membuat deg-degan para pelaku ekonomi. Hal ini juga membuat deg-degan pemerintah, masalahnya efek panjang dari kenaikan BBM di setahun menjelang Pemilu ini bikin ruwet pikiran dan tidak menguntungkan incumbent.

Terlebih dari itu, perkembangan positif ekonomi beberapa tahun terakhir ini bisa terlupakan gara-gara hujan masalah energi ini. Pak SBY menghimbau dilakukannya penghematan nasional, sebuah program bagus yang mungkin harusnya sudah dijalankan beberapa tahun yang lalu.

Peningkatan ekonomi belakangan ini, memang telah memacu peningkatan konsumsi. Walaupun perekonomian Indonesia penuh dengan ‘misteri’ terkait belum rapihnya database yang dimiliki, dan besarnya faktor informal, namun demikian, teori ekonomi yang satu ini ternyata benar adanya.

Contohnya ya di depan saya ini, mall sebagai etalase dari konsumsi retail dikunjungi buanyakk orang. Seingat saya seperti kebun binatang di hari Minggu yang saya sekeluarga kunjungi sewaktu kecil.

Orang-orang seakan tidak gelisah kalau sebentar lagi listrik padam nyala, harga BBM yang naik, suku bunga kredit juga meningkat. Ya, orang kita sebetulnya punya adaptasi yang cukup tinggi, saat ekonomi meningkat mereka meningkatkan konsumsinya, sementara ketika krisis melanda, banyak trik-trik baru yang dimiliki untuk tetap berkonsumsi ria, masih ingat krisis ekonomi 1997-1998 kan.

Saya jadi ingat dengan seorang teman, dia menceritakan pacarnya yang disebutnya pelit, karena melarang sering-sering pergi ke mall. Ketika saya tanyakan kenapa dilarang, ternyata pacarnya teman saya memandang ke mall sebagai sebuah tindakan konsumerisme. Seringkali ‘anti konsumerisme’ dekat dengan sebuah kata “pelit”. Dan masalahnya, pelit adalah sebuah kata yang dipandang negatif oleh sebagian besar orang di negeri ini, termasuk saya.

Sebetulnya konsumerisme lebih merupakan gaya hidup yang menekankan konsumsi bukan pada fungsi konsumsi itu sendiri, namun pada brand, atau sesuatu yang meningkatkan status.

Kalau melihat sejarah konsumerisme di wikipedia, lebih banyak di drive oleh gaya hidup di barat. (http://en.wikipedia.org/wiki/Consumerism).

Tapi cape deh mengkaitkannya dengan teori ekonomi dan kebutuhan manusia, yang pasti fenomena itu ada dan berkembang di negeri tercinta ini seiring dengan meningkatnya hasil-hasil pembangunan.

Ya, trend setter di Indonesia telah membentuk budaya baru, jika bisa dikatakan demikian. Pertanyaannya, apakah dengan mengikutinya maka produktifitas masyarakat bisa meningkat ? Atau masyarakat jadi lebih produktif untuk dapat mengikuti budaya ini ? Mudah-mudahan jawabannya.

Dan perkembangan gaya hidup ini juga mendapatkan fasilitas yang luar biasa di Jakarta. Semoga para pengunjung ini memang memiliki daya beli yang tinggi, atau menghasilkan produktifitas yang lebih tinggi dengan berbelanja di sini. Kalaupun tidak, semoga Pemerintah dapat memfasilitasi tempat jalan-jalan yang menarik dan berorientasi pada hal-hal produktif.

Ah, jadi ngelantur kemana-mana, adik saya sudah datang…..dengan tas plastik Charles & Keith nya, saya tidak berani bilang dia konsumerisme, karena saya juga ragu tidak bersifat demikian dan nanti dikatakan pelit lagi, walaupun saya bisa bikin satu tulisan…..mudah-mudahan produktif juga… :) )


Responses

  1. lengkap dan mendalam…sering-sering di update blognya ya,g’d luck

  2. Tulisannya enak dibaca… hangat… kayak kopi mocha decaff nonfat!!! Decaff & Nonfat…? wah bagus… bagus… sudah sadar sekali akan kesehatan rupanya… Btw kapan ngopi bareng lagi nih?

  3. Kalo saya memang boros, jiwa konsumerismenya tinggi.
    Tapi untunglah saya tinggalnya di hutan,,

  4. :D …saya juga boros, tinggal di hutan juga…hutan beton ya. makasih kang petak kunjungannya…


Leave a response

Your response:

Categories